Di tengah kawasan yang dikenal sebagai daerah pendulangan intan, masyarakat Pumpung sejak dahulu juga hidup sebagai petani. Kedua pekerjaan ini berjalan berdampingan dan saling melengkapi. Ketika musim tanam tiba, banyak pendulang kembali menggarap sawah.
Sebaliknya, ketika musim panen selesai atau harga hasil pertanian menurun, sebagian masyarakat kembali mencari rezeki dengan mendulang intan. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat Pumpung tidak pernah bergantung pada satu sumber penghasilan saja. Mereka belajar hidup selaras dengan alam dan mengikuti siklus musim.
Sebelum
teknologi pertanian berkembang seperti sekarang, para petani sangat bergantung
pada tanda-tanda alam. Mereka mengamati datangnya hujan, arah angin, tinggi air
di persawahan, hingga perubahan perilaku burung dan serangga sebagai petunjuk
waktu terbaik untuk mulai menanam. Bagi masyarakat Banjar, bertani bukan
sekadar pekerjaan, tetapi sebuah pengetahuan yang diwariskan dari orang tua
kepada anak-anaknya selama bergenerasi.
Tradisi dan Ritual Sebelum Menanam
Dalam budaya
masyarakat Banjar, setiap tahap bercocok tanam dahulu selalu disertai doa
sebagai ungkapan syukur dan harapan agar tanaman tumbuh subur. Di beberapa
kampung, dikenal tradisi selamatan turun sawah, yaitu berkumpul bersama
keluarga atau tetangga untuk memanjatkan doa sebelum musim tanam dimulai.
Tradisi ini bukanlah ritual yang bersifat wajib, melainkan bagian dari budaya
gotong royong dan rasa syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan.
Ada pula
kebiasaan membawa makanan sederhana ke sawah untuk disantap bersama setelah
selesai bekerja. Momen ini mempererat hubungan antarwarga sekaligus menjadi
kesempatan saling membantu dalam mengolah lahan. Nilai utama dari tradisi tersebut
adalah kebersamaan, bukan kemewahan.
Peralatan Bertani Tradisional
Sebelum hadirnya
traktor dan mesin panen, seluruh pekerjaan dilakukan dengan tenaga manusia. Beberapa
peralatan tradisional yang digunakan masyarakat Banjar antara lain:
- Tajak, alat untuk membersihkan
gulma dan mengolah tanah.
- Cangkul, untuk memperbaiki
pematang dan saluran air.
- Ani-ani atau ketam, alat kecil
yang digunakan untuk memotong bulir padi satu per satu. Cara ini memang
lambat, tetapi mampu mengurangi kehilangan bulir padi yang matang.
- Sabit, yang kemudian lebih banyak
digunakan ketika panen dilakukan secara lebih cepat.
- Bakul atau tanggui, wadah dari
anyaman bambu atau rotan untuk membawa hasil panen.
- Alu dan lesung, digunakan untuk
menumbuk padi menjadi beras sebelum hadirnya penggilingan modern.
Peralatan-peralatan
tersebut mencerminkan kearifan lokal masyarakat yang memanfaatkan bahan-bahan
dari alam sekitar.
Ada filosofi
menarik yang hidup di tengah masyarakat Pumpung. Sawah mengajarkan kepastian
melalui kesabaran, sedangkan pendulangan intan mengajarkan harapan melalui
keberanian.
Padi membutuhkan
waktu berbulan-bulan untuk dipanen, tetapi hasilnya relatif dapat diperkirakan.
Sebaliknya, seorang pendulang dapat menggali tanah selama berminggu-minggu
tanpa menemukan apa pun, atau justru menemukan intan besar dalam satu hari. Dua
pekerjaan ini membentuk karakter masyarakat Pumpung: sabar seperti petani,
tetapi juga berani mengambil peluang seperti pendulang.
Selain
menghasilkan pangan, sawah memiliki peran penting bagi lingkungan. Hamparan
sawah menjadi daerah resapan air, membantu menjaga keseimbangan ekosistem,
menjadi habitat berbagai jenis burung, capung, katak, ikan kecil, dan serangga
yang menjadi bagian dari rantai kehidupan.
Keberadaan sawah
juga menjaga panorama khas Pumpung, di mana bentang alam pertanian berpadu
dengan kawasan bekas pendulangan intan. Lanskap inilah yang menjadikan kawasan
ini unik dan berbeda dari destinasi wisata lainnya.
Satu butir padi
yang ditanam dapat menghasilkan puluhan hingga ratusan bulir saat panen. Sebelum
ada penggilingan modern, beras diperoleh dengan menumbuk padi menggunakan alu
dan lesung, pekerjaan yang biasanya dilakukan bersama-sama. Di Kalimantan
Selatan, berbagai hidangan khas seperti ketupat kandangan, nasi kuning Banjar,
nasi sop, hingga ketan semuanya berawal dari hasil sawah seperti yang Anda
lihat di depan ini. Dalam konsep gastronomi, sawah bukan hanya tempat
menghasilkan bahan pangan, tetapi juga bagian dari cerita budaya, tradisi, dan
identitas masyarakat.