Cempaka Living Museum
Jaga Budaya, Hidupkan Komunitas. Jelajahi kerajinan, wisata, dan kuliner khas Cempaka.
Cempaka Living MuseumKota Banjarbaru
šŸ”„ Me-refresh...
search

Ketik untuk mencari...

Sawah Pumpung

Di tengah kawasan yang dikenal sebagai daerah pendulangan intan, masyarakat Pumpung sejak dahulu juga hidup sebagai petani. Kedua pekerjaan ini berjalan berdampingan dan saling melengkapi. Ketika musim tanam tiba, banyak pendulang kembali menggarap sawah. 

Sebaliknya, ketika musim panen selesai atau harga hasil pertanian menurun, sebagian masyarakat kembali mencari rezeki dengan mendulang intan. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat Pumpung tidak pernah bergantung pada satu sumber penghasilan saja. Mereka belajar hidup selaras dengan alam dan mengikuti siklus musim.

Sebelum teknologi pertanian berkembang seperti sekarang, para petani sangat bergantung pada tanda-tanda alam. Mereka mengamati datangnya hujan, arah angin, tinggi air di persawahan, hingga perubahan perilaku burung dan serangga sebagai petunjuk waktu terbaik untuk mulai menanam. Bagi masyarakat Banjar, bertani bukan sekadar pekerjaan, tetapi sebuah pengetahuan yang diwariskan dari orang tua kepada anak-anaknya selama bergenerasi.

Tradisi dan Ritual Sebelum Menanam

Dalam budaya masyarakat Banjar, setiap tahap bercocok tanam dahulu selalu disertai doa sebagai ungkapan syukur dan harapan agar tanaman tumbuh subur. Di beberapa kampung, dikenal tradisi selamatan turun sawah, yaitu berkumpul bersama keluarga atau tetangga untuk memanjatkan doa sebelum musim tanam dimulai. Tradisi ini bukanlah ritual yang bersifat wajib, melainkan bagian dari budaya gotong royong dan rasa syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan.

Ada pula kebiasaan membawa makanan sederhana ke sawah untuk disantap bersama setelah selesai bekerja. Momen ini mempererat hubungan antarwarga sekaligus menjadi kesempatan saling membantu dalam mengolah lahan. Nilai utama dari tradisi tersebut adalah kebersamaan, bukan kemewahan.

Peralatan Bertani Tradisional

Sebelum hadirnya traktor dan mesin panen, seluruh pekerjaan dilakukan dengan tenaga manusia. Beberapa peralatan tradisional yang digunakan masyarakat Banjar antara lain:

  • Tajak, alat untuk membersihkan gulma dan mengolah tanah.
  • Cangkul, untuk memperbaiki pematang dan saluran air.
  • Ani-ani atau ketam, alat kecil yang digunakan untuk memotong bulir padi satu per satu. Cara ini memang lambat, tetapi mampu mengurangi kehilangan bulir padi yang matang.
  • Sabit, yang kemudian lebih banyak digunakan ketika panen dilakukan secara lebih cepat.
  • Bakul atau tanggui, wadah dari anyaman bambu atau rotan untuk membawa hasil panen.
  • Alu dan lesung, digunakan untuk menumbuk padi menjadi beras sebelum hadirnya penggilingan modern.

Peralatan-peralatan tersebut mencerminkan kearifan lokal masyarakat yang memanfaatkan bahan-bahan dari alam sekitar.

Ada filosofi menarik yang hidup di tengah masyarakat Pumpung. Sawah mengajarkan kepastian melalui kesabaran, sedangkan pendulangan intan mengajarkan harapan melalui keberanian.

Padi membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk dipanen, tetapi hasilnya relatif dapat diperkirakan. Sebaliknya, seorang pendulang dapat menggali tanah selama berminggu-minggu tanpa menemukan apa pun, atau justru menemukan intan besar dalam satu hari. Dua pekerjaan ini membentuk karakter masyarakat Pumpung: sabar seperti petani, tetapi juga berani mengambil peluang seperti pendulang.

Selain menghasilkan pangan, sawah memiliki peran penting bagi lingkungan. Hamparan sawah menjadi daerah resapan air, membantu menjaga keseimbangan ekosistem, menjadi habitat berbagai jenis burung, capung, katak, ikan kecil, dan serangga yang menjadi bagian dari rantai kehidupan.

Keberadaan sawah juga menjaga panorama khas Pumpung, di mana bentang alam pertanian berpadu dengan kawasan bekas pendulangan intan. Lanskap inilah yang menjadikan kawasan ini unik dan berbeda dari destinasi wisata lainnya.

Satu butir padi yang ditanam dapat menghasilkan puluhan hingga ratusan bulir saat panen. Sebelum ada penggilingan modern, beras diperoleh dengan menumbuk padi menggunakan alu dan lesung, pekerjaan yang biasanya dilakukan bersama-sama. Di Kalimantan Selatan, berbagai hidangan khas seperti ketupat kandangan, nasi kuning Banjar, nasi sop, hingga ketan semuanya berawal dari hasil sawah seperti yang Anda lihat di depan ini. Dalam konsep gastronomi, sawah bukan hanya tempat menghasilkan bahan pangan, tetapi juga bagian dari cerita budaya, tradisi, dan identitas masyarakat.

storefront

Toko Cempaka

Produk lokal berkualitas dari masyarakat Cempaka

Jumlah
Subtotal

share Bagikan Artikel

chat
WhatsApp
send
Telegram
camera_alt
IG Story
content_copy
Salin Link

how_to_reg Formulir Pendaftaran

Isi formulir berikut untuk bergabung menjadi bagian dari Cempaka Living Museum.

shopping_bag Keranjang