Bagi masyarakat Pumpung, menemukan kayu ulin saat mendulang bukanlah hal yang asing. Namun bagi para peneliti, temuan ini sangat menarik karena menunjukkan bahwa kawasan yang sekarang menjadi lahan pertanian dan permukiman dahulu memiliki bentang alam yang sangat berbeda. Kayu-kayu ini adalah bagian dari sejarah panjang yang berlangsung jauh sebelum manusia mengenal pertambangan intan.
Pada masa lalu,
kawasan Cempaka diperkirakan merupakan wilayah yang didominasi oleh hutan
lebat, rawa, dan aliran sungai purba. Pohon-pohon besar yang tumbang kemudian
tertimbun oleh pasir, kerikil, dan lumpur akibat banjir, perubahan aliran
sungai, serta proses sedimentasi yang berlangsung sangat lama.
Lapisan demi
lapisan tanah terus menumpuk hingga akhirnya kayu-kayu tersebut terkubur
belasan bahkan puluhan meter di bawah permukaan. Ketika para pendulang menggali
untuk mencari intan, mereka secara tidak sengaja membuka kembali "lembaran
sejarah" yang telah tersimpan sangat lama.
Kayu yang Anda
lihat adalah ulin (Eusideroxylon zwageri), pohon endemik Kalimantan yang
dikenal sebagai kayu besi karena kekuatan dan ketahanannya yang luar biasa. Ulin
memiliki karakteristik yang unik seperti sangat keras sehingga sulit dipotong,
tahan terhadap rayap dan jamur, tidak mudah lapuk meskipun terus-menerus
terkena air, semakin tua usianya, kayunya justru semakin kuat.
Karena sifat
inilah, masyarakat Kalimantan sejak dahulu menggunakan kayu ulin untuk
membangun rumah panggung, jembatan, tiang dermaga, masjid, hingga lantai dan
atap sirap. Banyak bangunan berusia ratusan tahun di Kalimantan masih berdiri
kokoh berkat kayu ulin.
Salah satu
keajaiban kayu ulin adalah kemampuannya bertahan dalam kondisi yang bagi kayu
lain akan menyebabkan pembusukan. Ketika terkubur di dalam lapisan tanah yang
minim oksigen dan selalu lembap, kayu ulin dapat bertahan sangat lama.
Kandungan resin dan struktur kayunya yang padat membuat proses pelapukan
berlangsung sangat lambat.
Itulah sebabnya,
ketika para pendulang menemukannya di dasar lubang, banyak kayu yang masih
cukup kuat untuk dimanfaatkan kembali. Bagi masyarakat Pumpung, kayu tersebut
tidak dibuang. Sebaliknya, mereka menggunakannya sebagai pagar, tiang, atau
pembatas lahan, seperti yang Anda lihat di lokasi ini. Hal ini mencerminkan
budaya masyarakat yang menghargai dan memanfaatkan sumber daya alam secara
bijaksana.
Menariknya,
intan dan kayu ulin sama-sama ditemukan di lapisan tanah yang dalam, tetapi
keduanya berasal dari proses alam yang sangat berbeda. Intan terbentuk jauh di
dalam mantel bumi akibat tekanan dan suhu yang sangat tinggi selama miliaran
tahun. Kayu ulin berasal dari pohon yang pernah tumbuh di permukaan bumi,
kemudian tertimbun oleh proses alam selama ribuan tahun.
Keduanya
dipertemukan kembali oleh tangan para pendulang. Karena itu, setiap kali
masyarakat menggali tanah untuk mencari intan, mereka tidak hanya menemukan
batu mulia, tetapi juga menemukan jejak sejarah lingkungan Kalimantan.
Ulin (Eusideroxylon
zwageri) merupakan salah satu pohon khas Kalimantan yang pertumbuhannya
sangat lambat. Untuk mencapai ukuran besar, pohon ini dapat memerlukan waktu
puluhan hingga ratusan tahun. Karena eksploitasi berlebihan dan lambatnya
regenerasi, ulin kini termasuk jenis pohon yang dilindungi dan pemanfaatannya
diatur untuk menjaga kelestariannya. Masyarakat Kalimantan memberi julukan
"kayu besi" karena kekuatan dan daya tahannya yang luar biasa.