Cempaka Living Museum
Jaga Budaya, Hidupkan Komunitas. Jelajahi kerajinan, wisata, dan kuliner khas Cempaka.
Cempaka Living MuseumKota Banjarbaru
šŸ”„ Me-refresh...
search

Ketik untuk mencari...

Kayu Ulin Dalam Pendulangan

Bagi masyarakat Pumpung, menemukan kayu ulin saat mendulang bukanlah hal yang asing. Namun bagi para peneliti, temuan ini sangat menarik karena menunjukkan bahwa kawasan yang sekarang menjadi lahan pertanian dan permukiman dahulu memiliki bentang alam yang sangat berbeda. Kayu-kayu ini adalah bagian dari sejarah panjang yang berlangsung jauh sebelum manusia mengenal pertambangan intan.

Pada masa lalu, kawasan Cempaka diperkirakan merupakan wilayah yang didominasi oleh hutan lebat, rawa, dan aliran sungai purba. Pohon-pohon besar yang tumbang kemudian tertimbun oleh pasir, kerikil, dan lumpur akibat banjir, perubahan aliran sungai, serta proses sedimentasi yang berlangsung sangat lama.

Lapisan demi lapisan tanah terus menumpuk hingga akhirnya kayu-kayu tersebut terkubur belasan bahkan puluhan meter di bawah permukaan. Ketika para pendulang menggali untuk mencari intan, mereka secara tidak sengaja membuka kembali "lembaran sejarah" yang telah tersimpan sangat lama.

Kayu yang Anda lihat adalah ulin (Eusideroxylon zwageri), pohon endemik Kalimantan yang dikenal sebagai kayu besi karena kekuatan dan ketahanannya yang luar biasa. Ulin memiliki karakteristik yang unik seperti sangat keras sehingga sulit dipotong, tahan terhadap rayap dan jamur, tidak mudah lapuk meskipun terus-menerus terkena air, semakin tua usianya, kayunya justru semakin kuat.

Karena sifat inilah, masyarakat Kalimantan sejak dahulu menggunakan kayu ulin untuk membangun rumah panggung, jembatan, tiang dermaga, masjid, hingga lantai dan atap sirap. Banyak bangunan berusia ratusan tahun di Kalimantan masih berdiri kokoh berkat kayu ulin.

Salah satu keajaiban kayu ulin adalah kemampuannya bertahan dalam kondisi yang bagi kayu lain akan menyebabkan pembusukan. Ketika terkubur di dalam lapisan tanah yang minim oksigen dan selalu lembap, kayu ulin dapat bertahan sangat lama. Kandungan resin dan struktur kayunya yang padat membuat proses pelapukan berlangsung sangat lambat.

Itulah sebabnya, ketika para pendulang menemukannya di dasar lubang, banyak kayu yang masih cukup kuat untuk dimanfaatkan kembali. Bagi masyarakat Pumpung, kayu tersebut tidak dibuang. Sebaliknya, mereka menggunakannya sebagai pagar, tiang, atau pembatas lahan, seperti yang Anda lihat di lokasi ini. Hal ini mencerminkan budaya masyarakat yang menghargai dan memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana.

Menariknya, intan dan kayu ulin sama-sama ditemukan di lapisan tanah yang dalam, tetapi keduanya berasal dari proses alam yang sangat berbeda. Intan terbentuk jauh di dalam mantel bumi akibat tekanan dan suhu yang sangat tinggi selama miliaran tahun. Kayu ulin berasal dari pohon yang pernah tumbuh di permukaan bumi, kemudian tertimbun oleh proses alam selama ribuan tahun.

Keduanya dipertemukan kembali oleh tangan para pendulang. Karena itu, setiap kali masyarakat menggali tanah untuk mencari intan, mereka tidak hanya menemukan batu mulia, tetapi juga menemukan jejak sejarah lingkungan Kalimantan.

Ulin (Eusideroxylon zwageri) merupakan salah satu pohon khas Kalimantan yang pertumbuhannya sangat lambat. Untuk mencapai ukuran besar, pohon ini dapat memerlukan waktu puluhan hingga ratusan tahun. Karena eksploitasi berlebihan dan lambatnya regenerasi, ulin kini termasuk jenis pohon yang dilindungi dan pemanfaatannya diatur untuk menjaga kelestariannya. Masyarakat Kalimantan memberi julukan "kayu besi" karena kekuatan dan daya tahannya yang luar biasa.

storefront

Toko Cempaka

Produk lokal berkualitas dari masyarakat Cempaka

Jumlah
Subtotal

share Bagikan Artikel

chat
WhatsApp
send
Telegram
camera_alt
IG Story
content_copy
Salin Link

how_to_reg Formulir Pendaftaran

Isi formulir berikut untuk bergabung menjadi bagian dari Cempaka Living Museum.

shopping_bag Keranjang