Pohon Kasturi (Mangifera casturi) adalah salah satu tumbuhan paling istimewa di Kalimantan Selatan. Kasturi bukan sekadar jenis mangga, tetapi merupakan flora identitas Provinsi Kalimantan Selatan berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 48 Tahun 1989.
Ironisnya, meskipun menjadi identitas daerah, kasturi justru termasuk tumbuhan yang sangat langka. Di alam liar, Mangifera casturi dinyatakan punah (Extinct in the Wild) oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Pohon-pohon kasturi yang masih ada saat ini umumnya merupakan hasil budidaya atau pelestarian di pekarangan masyarakat, kebun koleksi, dan lembaga konservasi.
Dengan kata lain, pohon yang Anda lihat ini bukan hanya pohon buah biasa. Ia adalah saksi hidup yang menyimpan harapan agar kasturi tetap lestari.
Bagi masyarakat Banjar, kasturi memiliki tempat istimewa dalam kenangan. Buahnya memang tidak sebesar mangga modern. Ukurannya relatif kecil dengan kulit yang akan berubah menjadi cokelat keunguan hingga kehitaman saat matang. Namun keistimewaannya terletak pada aromanya yang sangat harum, daging buah yang lembut, serta rasa manis yang khas.
Dahulu, ketika musim kasturi tiba, aroma buah yang matang dapat tercium dari kejauhan. Banyak keluarga Banjar menjadikan musim kasturi sebagai momen yang ditunggu setiap tahun. Kini, pengalaman itu semakin jarang dirasakan karena jumlah pohonnya terus berkurang.
Kelangkaan kasturi bukan terjadi dalam waktu singkat. Perubahan bentang alam, pembukaan lahan, berkurangnya hutan dataran rendah, serta bergantinya pohon-pohon lokal dengan tanaman budidaya menyebabkan habitat kasturi semakin menyusut.
Banyak pohon tua yang ditebang tanpa sempat diperbanyak. Akibatnya, populasi kasturi terus menurun hingga akhirnya tidak lagi ditemukan tumbuh alami di habitat aslinya. Keberadaan pohon kasturi seperti yang ada di Pumpung Creative Space menjadi sangat penting karena membantu menjaga keberlanjutan plasma nutfah lokal Kalimantan Selatan.
Sekilas, kasturi tampak tidak berkaitan dengan sejarah pertambangan intan. Namun jika diperhatikan lebih dalam, keduanya memiliki benang merah yang sama: warisan. Intan Trisakti adalah warisan geologi yang terbentuk jutaan tahun di dalam bumi. Sementara kasturi adalah warisan hayati yang tumbuh dan berkembang bersama kehidupan masyarakat Kalimantan Selatan selama ratusan tahun.
Melalui Rute Jelajah Intan Trisakti, Anda diajak memahami bahwa kekayaan sebuah daerah tidak hanya diukur dari mineral berharga yang tersimpan di bawah tanah, tetapi juga dari tumbuhan, budaya, tradisi, dan pengetahuan lokal yang hidup di atasnya. Karena itulah, kawasan Pumpung Creative Space mengangkat konsep Living Museum, sebuah ruang di mana sejarah alam dan kehidupan masyarakat dapat dipelajari secara langsung.
Mangifera casturi merupakan spesies mangga yang berasal dari Kalimantan Selatan dan menjadi flora identitas provinsi. Status konservasinya adalah Extinct in the Wild (EW) menurut IUCN, artinya tidak lagi ditemukan tumbuh alami di habitat aslinya, tetapi masih bertahan melalui budidaya dan pelestarian.
Kasturi termasuk kerabat dekat mangga, kuweni, hambawang, dan berbagai spesies Mangifera lainnya yang tumbuh di Kalimantan. Selain bernilai ekologis, kasturi juga memiliki nilai budaya yang kuat karena sering muncul dalam cerita rakyat, kuliner, dan kenangan masyarakat Banjar.
Mari Ikut Menjaga Warisan Ini