Lubang yang Anda lihat merupakan bekas pendulangan intan tradisional, metode penambangan yang telah dilakukan masyarakat Cempaka secara turun-temurun selama lebih dari satu abad. Bagi masyarakat Pumpung, lubang ini bukan sekadar bekas galian tanah. Ia adalah simbol perjuangan, kerja keras, dan hubungan manusia dengan alam.
Intan tidak
terbentuk di dekat permukaan bumi. Batu mulia ini terbentuk sekitar 140–200
kilometer di bawah permukaan bumi, pada tekanan dan suhu yang sangat tinggi,
sekitar 1 hingga 3 miliar tahun yang lalu. Melalui aktivitas geologi dan
letusan gunung purba, kristal intan kemudian terbawa ke lapisan bumi yang lebih
dangkal.
Selama jutaan
tahun berikutnya, hujan, sungai, dan proses pelapukan memindahkan butiran intan
dari batuan asalnya hingga akhirnya mengendap di lapisan pasir, kerikil, dan
tanah yang kini menjadi kawasan Cempaka. Karena itulah, para pendulang menggali
tanah hingga kedalaman belasan bahkan puluhan meter untuk mencapai lapisan yang
diyakini mengandung endapan intan.
Sebelum alat
berat dikenal, seluruh proses dilakukan secara manual. Pendulang menggali
lubang sedikit demi sedikit menggunakan cangkul, sekop, dan linggis. Tanah
diangkat ke permukaan menggunakan ember yang ditarik dengan tali atau katrol
sederhana.
Di beberapa
lokasi, kedalaman lubang bisa mencapai 15 hingga lebih dari 20 meter. Semakin
dalam menggali, semakin besar pula risiko longsor, rembesan air, hingga
kekurangan oksigen. Tanah yang telah diangkat kemudian dicuci menggunakan
dulang atau alat pemisah sederhana untuk memisahkan pasir, kerikil, dan
kemungkinan butiran intan. Proses ini membutuhkan ketelitian luar biasa.
Sebutir intan kasar berukuran hanya beberapa milimeter dapat dengan mudah
terlewat jika kurang cermat.
Sebagian besar
lubang pendulangan tidak pernah menghasilkan intan bernilai besar. Seorang
pendulang bisa bekerja berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, hanya untuk
menemukan butiran kecil atau bahkan pulang tanpa hasil sama sekali. Namun
mereka tetap menggali. Karena selalu ada keyakinan bahwa lapisan tanah
berikutnya mungkin menyimpan keberuntungan. Semangat inilah yang diwariskan
dari generasi ke generasi masyarakat Cempaka.
Saat menggali tanah, para pendulang tidak hanya menemukan intan. Mereka juga sering menemukan kayu ulin purba yang terkubur pada kedalaman belasan meter. Fosil atau sisa-sisa tumbuhan kuno. Batu-batuan unik yang menjadi petunjuk sejarah geologi kawasan Cempaka. Keping koin mata uang peninggalan di Sungai purba. Temuan-temuan tersebut membantu para peneliti memahami bagaimana bentang alam Kalimantan Selatan berubah selama ribuan hingga jutaan tahun. Artinya, setiap lubang pendulangan sesungguhnya adalah arsip alam yang menyimpan cerita masa lalu.
Dibutuhkan
ratusan hingga ribuan kilogram material tanah untuk menemukan satu butir intan
berkualitas baik. Sebagian besar intan ditemukan dalam kondisi belum berkilau.
Kilau yang kita lihat pada perhiasan baru muncul setelah melalui proses
pemotongan (cutting) dan pemolesan (polishing). Selain intan,
kawasan Cempaka juga menghasilkan mineral lain seperti kuarsa, zirkon, dan
batuan sedimen yang menjadi bagian dari sejarah geologi daerah ini.