Pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan bukan sekadar bentang alam pegunungan biasa. Secara geologis, kawasan ini merupakan hamparan ofiolit (kerak samudra) tertua di Indonesia yang terangkat ke permukaan bumi. Namun, dari sudut pandang ekologi dan biogeografi, Meratus memegang peran yang jauh lebih krusial sebagai "Sekoci Nuh" (Refugia Late Pleistocene) bagi keanekaragaman hayati raksasa di Pulau Kalimantan.
Ketika iklim global mengalami fluktuasi ekstrem pada Zaman Es (Pleistosen), Meratus menjadi wilayah penyelamat yang menjaga ribuan spesies flora dan fauna endemik dari kepunahan.
Fenomena Refugia: Bagaimana Meratus Menjadi Sekoci Alam?
Pada Kala Pleistosen (sekitar 2,5 juta hingga 11.700 tahun yang lalu), bumi mengalami beberapa siklus Zaman Es (glasial). Ketika suhu global menurun drastis, volume air laut menyusut, dan Paparan Sunda (Sunda Shelf) bersatu menjadi daratan luas yang menghubungkan Kalimantan, Sumatra, Jawa, dan Asia Daratan.
Namun, bersatunya daratan ini diikuti oleh perubahan iklim mikro yang ekstrem. Sebagian besar dataran rendah Kalimantan yang dulunya hutan hujan tropis basah berubah menjadi sabana kering atau hutan musiman yang lebih terbuka (savannah corridor).
Perubahan vegetasi ini mengancam kelangsungan hidup spesies-spesies yang sangat bergantung pada kelembapan hutan hujan tropis.
Di sinilah Pegunungan Meratus berperan sebagai refugia (ruang perlindungan). Karena memiliki topografi yang tinggi dan curam, kawasan Meratus mampu mempertahankan iklim mikro yang tetap basah, lembap, dan sejuk, lengkap dengan pasokan air dari awan dan hujan orografis.
Ketika hutan hujan di dataran rendah menyusut dan menghilang, spesies flora dan fauna "mengungsi" ke atas lereng Meratus. Kawasan ini bertindak layaknya Sekoci Nuh, mengisolasi dan melindungi plasma nutfah purba Kalimantan dari kepunahan massal.
Kekayaan Hayati Khusus di Benteng Meratus
Isolasi geografis selama jutaan tahun di benteng Meratus ini memicu proses spesiasi—pembentukan spesies baru yang unik dan tidak ditemukan di belahan bumi mana pun.
- Keanekaragaman Flora dan "Surga" Anggrek Endemik
Pegunungan Meratus dikenal sebagai salah satu pusat keragaman kantong semar (Nepenthes) dan anggrek liar terbesar di Indonesia.
Salah satu maskot utamanya adalah Anggrek Meratus (Paraphalaenopsis serpentilingua), anggrek endemik dengan bentuk labellum menyerupai lidah ular yang hanya tumbuh di ekosistem batuan ultrabasa Meratus.
Hutan Meratus juga menjadi rumah bagi pohon-pohon raksasa keluarga Dipterocarpaceae (meranti-merantian) purba yang telah punah di dataran rendah akibat deforestasi dan perubahan iklim.
- Fauna Endemik dan "Garis Unik" Meratus
Kawasan ini menjadi ruang hidup kritis bagi mamalia besar dan primata langka. Owa Kalimantan (Hylobates albibarbis), Bekantan (Nasalis larvatus), dan Lutung Meratus (Presbytis frontata) menjadikan kanopi hutan Meratus sebagai benteng pertahanan terakhir mereka.
Selain primata, keanekaragaman herpetofauna (amfibi dan reptil) di Meratus sangat tinggi, di mana para peneliti terus menemukan spesies katak dan cecak baru yang terisolasi di puncak-puncak gunungnya.
Tantangan Kontemporer: Menjaga sang Sekoci Tetap Mengapung
Sebagai kawasan refugia kuno, ekosistem Meratus sebenarnya sangat rapuh. Spesies yang terisolasi di pegunungan (khususnya spesies dataran tinggi/montane) tidak memiliki tempat bergeser lagi jika habitat mereka rusak. Ancaman nyata saat ini meliputi:
Alih Fungsi Lahan: Perambahan hutan untuk perkebunan monokultur dan pertambangan di kaki gunung.
Perubahan Iklim Modern: Pemanasan global memaksa spesies-spesies untuk bermigrasi semakin tinggi ke puncak gunung (escalator effect), hingga akhirnya kehabisan ruang hidup.
Melalui statusnya yang kini didorong sebagai Geopark Internasional (UNESCO Global Geopark), konservasi Meratus tidak lagi sekadar menyelamatkan pohon, melainkan menyelamatkan seluruh cetak biru (blueprint) evolusi hayati Pulau Kalimantan.
Rujukan Ilmiah:
Cannon, C. H., Morley, R. J., & Bush, A. B. (2009). Refugia driving evolution and diversity in Southeast Asian rainforests. Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), 106(23), 9537-9538.
(Jurnal ini menjelaskan secara rinci bagaimana pegunungan di Paparan Sunda, termasuk Kalimantan, bertindak sebagai refugia/sekoci penyelamat hutan hujan selama periode glasial).
MacKinnon, K., Hatta, G., Halim, H., & Mangalik, A. (1996). The Ecology of Kalimantan (Vol. III). Oxford University Press.
(Buku monumental ini menjadi kitab suci ekologi Kalimantan, yang secara spesifik membahas keunikan biogeografi, endemisitas, dan vegetasi di batuan ultrabasa Pegunungan Meratus).
Raes, N., dkk. (2014). Historical biogeography of Dipterocarpaceae reveals the role of Sundaland refugia. Phytotaxa, 161(1).
(Penelitian yang membuktikan bahwa kelestarian pohon-pohon meranti purba di Kalimantan sangat bergantung pada area pegunungan yang bertindak sebagai refugia saat iklim purba berubah menjadi kering).
Slik, J. W., dkk. (2011). Plants of the Meratus Mountains, South Kalimantan, Indonesia. Blumea-Biodiversity, Evolution and Biogeography of Plants, 56(2).
(Riset taksonomi spesifik yang mendata kekayaan flora luar biasa di Pegunungan Meratus dan tingkat endemisitasnya yang tinggi).
