Dalam sesi urun rembuk tersebut, Wakil Ketua Pokdarwis Sungai Tiung, Arkani, membeberkan dinamika perjuangan mendalam rekan-rekan Pokdarwis dalam menjalin kemitraan dengan berbagai elemen strategis. Semangat kolektif ini bermuara pada satu visi besar: menata kawasan Pumpung agar representatif sebagai kawasan wisata budaya yang mandiri dan terstruktur.
Meski demikian, Arkani tidak menampik adanya tantangan klasik yang kini membayangi realisasi penataan fisik tersebut.
"Kita sudah menemui banyak pihak agar kawasan ini bisa tertata layaknya kawasan wisata. Namun, kendala utama yang kami hadapi di lapangan adalah persoalan ketersediaan lahan untuk pembangunan infrastruktur. Ada beberapa pihak yang sebenarnya sudah berkomitmen membantu bangunan fisik, tetapi lahannya yang tidak ada," ungkap Arkani terus terang.
Menghidupkan Kembali Ruang Edukasi Era Intan Trisakti
Di tengah kendala eksternal tersebut, Pokdarwis Sungai Tiung telah merancang cetak biru atraksi wisata yang sangat visioner. Mereka berencana membangun sebuah miniatur pendulangan intan tradisional tempo dulu yang menyajikan reka adegan prosesi menambang secara utuh.
Langkah ini diambil demi menyelamatkan nilai historis dari gempuran modernisasi alat. Arkani menyebutkan bahwa pola pendulangan pasca-tahun 2000-an mayoritas telah beralih ke metode instan menggunakan mesin sedot mekanis.
"Kami ingin mengedukasi wisatawan yang datang ke Pumpung dengan menunjukkan bagaimana proses otentik pendulangan intan yang sebenarnya di era tahun 1965-an tepat pada momentum sejarah ketika Intan Trisakti legendaris ditemukan," imbuh Arkani.
Gagasan menghadirkan replika sejarah hidup ini langsung mendapat apresiasi tinggi dari Ketua Harian Komite Ekraf Banjarbaru, Narwanto. Menurutnya, konsep tersebut merupakan diferensiasi produk wisata yang brilian dan memiliki nilai jual yang kuat bagi ekosistem pariwisata Banjarbaru.
"Semoga harapan besar itu bisa segera terwujud. Meski demikian, kami juga berharap pengembangan miniatur tersebut tidak menutup potensi aktivitas alternatif lainnya di kawasan Pumpung, seperti pemanfaatan area sebagai tempat kemping (camping ground) dan aktivitas ekonomi kreatif penunjang lainnya," tanggap Narwanto.
Menyusun Skala Prioritas dan Kolaborasi Lintas Sektor
Guna menjaga ritme pergerakan, Komite EKRAF Banjarbaru dan Pokdarwis Sungai Tiung menyepakati penyusunan skala prioritas taktis terkait program-program berbasis komunitas yang dapat segera dieksekusi secara swadaya tanpa harus menunggu proyek fisik skala besar.
Beberapa poin manajemen lingkungan yang menjadi fokus utama dalam waktu dekat antara lain:
Peningkatan standar kebersihan dan pengelolaan sampah di area wisata.
Penyelerasan estetika lanskap melalui penanaman bunga dan vegetasi pendukung.
Pengadaan instrumen penerangan lampu jalan yang memadai.
Aktivasi sarana sanitasi umum (MCK) yang layak dan higienis bagi pengunjung.
Sebagai tindak lanjut jangka pendek dari hasil pemetaan masalah ini, Komite EKRAF Banjarbaru berkomitmen penuh untuk menjembatani komunikasi ke level birokrasi. "Komite EKRAF Banjarbaru akan segera berkoordinasi secara intensif dengan Pemerintah Kota Banjarbaru melalui SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) terkait untuk mendiskusikan solusi atas permasalahan lahan dan dukungan fasilitas ini," tegas Narwanto.
Merajut Kebersamaan Lewat Cempaka Living Museum
Sebelum agenda kemping dan diskusi informal tersebut berakhir, Arkani menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas komitmen berkelanjutan dari Komite EKRAF Banjarbaru yang konsisten mendampingi masyarakat Pumpung dari bawah. Bagi Pokdarwis, model serap aspirasi secara informal dan santai seperti ini terbukti jauh lebih efektif dalam memecahkan kebuntuan komunikasi.
"Terima kasih sudah berkenan hadir ke Pumpung untuk kesekian kalinya dan bahkan bermalam di sini. Kami dari Pokdarwis Sungai Tiung siap bersinergi penuh dengan Komite EKRAF Banjarbaru untuk mewujudkan cita-cita bersama: menjadikan Pumpung sebagai episentrum wisata budaya melalui payung besar Cempaka Living Museum," pungkas Arkani optimis.



