Cempaka Living Museum
Jaga Budaya, Hidupkan Komunitas. Jelajahi kerajinan, wisata, dan kuliner khas Cempaka.
Cempaka Living MuseumKota Banjarbaru
šŸ”„ Me-refresh...
search

Ketik untuk mencari...

In Memoriam Pendulang Intan

"Sebelum Anda meninggalkan kawasan ini, kami mengajak Anda berhenti sejenak. Bukan untuk melihat intan, tetapi untuk mengenang orang-orang yang telah mengorbankan hidupnya di tanah yang sama."

Pendulangan intan adalah pekerjaan yang penuh harapan. Namun di balik harapan itu, selalu ada risiko yang mengintai.

Lubang sedalam 15 hingga 20 meter, dinding tanah yang labil, rembesan air, serta longsoran yang datang tanpa tanda menjadikan pekerjaan ini sebagai salah satu mata pencaharian tradisional yang memiliki risiko tinggi.

Tidak sedikit pendulang yang berangkat pagi hari dengan harapan membawa pulang rezeki, tetapi justru tidak pernah kembali ke rumah. Mereka adalah ayah, ibu, anak, saudara, dan kepala keluarga yang mencari nafkah dari perut bumi.

Intan yang Dibayar dengan Nyawa

Sebagian besar pengunjung mengenal Pumpung karena kisah Intan Trisakti. Namun masyarakat Pumpung juga menyimpan kisah lain yang lebih sunyi. Kisah tentang para pendulang yang kehilangan nyawa saat bekerja.

Bagi warga setempat, setiap musibah bukan sekadar berita. Ia meninggalkan keluarga, anak-anak yang kehilangan ayah, istri yang kehilangan suami, orang tua yang kehilangan anak, serta luka yang terus dikenang oleh masyarakat.

Karena itu, setiap kali terjadi longsor, seluruh warga biasanya ikut membantu proses pencarian tanpa memandang hubungan keluarga. Solidaritas inilah yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pendulang.

Spot ini bukan untuk membangkitkan kesedihan. Spot ini dibangun agar setiap orang yang datang memahami bahwa sejarah pertambangan intan bukan hanya tentang keberhasilan menemukan batu mulia.

Sejarah ini juga dibangun oleh orang-orang yang mempertaruhkan tenaga, waktu, bahkan nyawanya. Mereka mungkin tidak memiliki monumen besar. Namun jasa mereka layak dikenang.

Nama-Nama yang Pernah Gugur (beberapa nama pendulang yang terdokumentasi dalam arsip pemberitaan): Ahmad Sairoji, Sabrah (Anang Siwang), Suriani, M. Sobari, Supian Hadi, Samlani, Dumat, Aulia (Aau), Rofii (Jomang), M. Nauval Oval, Saltani (Toni), Ahyani, Alfatoni, Muhammad Muhaidi dan lainnya yang belum tertulis.

Di banyak negara, kawasan bekas tambang sering hanya menceritakan hasil tambangnya. Di Pumpung, kami memilih juga menceritakan manusianya. Karena tanpa para pendulang, dunia mungkin tidak pernah mengenal nama Intan Trisakti.

Semoga setiap langkah yang Anda tempuh di kawasan ini menjadi bentuk penghormatan kepada mereka yang telah bekerja keras, menjaga tradisi pendulangan, dan menjadi bagian dari sejarah Pumpung. Prasasti In Memoriam Pendulang Intan: "Masih banyak nama yang belum tercatat, tetapi tidak pernah dilupakan.”

storefront

Toko Cempaka

Produk lokal berkualitas dari masyarakat Cempaka

Jumlah
Subtotal

share Bagikan Artikel

chat
WhatsApp
send
Telegram
camera_alt
IG Story
content_copy
Salin Link

how_to_reg Formulir Pendaftaran

Isi formulir berikut untuk bergabung menjadi bagian dari Cempaka Living Museum.

shopping_bag Keranjang