"Sebelum Anda meninggalkan kawasan ini, kami mengajak Anda berhenti sejenak. Bukan untuk melihat intan, tetapi untuk mengenang orang-orang yang telah mengorbankan hidupnya di tanah yang sama."
Pendulangan
intan adalah pekerjaan yang penuh harapan. Namun di balik harapan itu, selalu
ada risiko yang mengintai.
Lubang sedalam
15 hingga 20 meter, dinding tanah yang labil, rembesan air, serta longsoran
yang datang tanpa tanda menjadikan pekerjaan ini sebagai salah satu mata
pencaharian tradisional yang memiliki risiko tinggi.
Tidak sedikit
pendulang yang berangkat pagi hari dengan harapan membawa pulang rezeki, tetapi
justru tidak pernah kembali ke rumah. Mereka adalah ayah, ibu, anak, saudara,
dan kepala keluarga yang mencari nafkah dari perut bumi.
Intan yang Dibayar dengan Nyawa
Sebagian besar
pengunjung mengenal Pumpung karena kisah Intan Trisakti. Namun masyarakat
Pumpung juga menyimpan kisah lain yang lebih sunyi. Kisah tentang para
pendulang yang kehilangan nyawa saat bekerja.
Bagi warga
setempat, setiap musibah bukan sekadar berita. Ia meninggalkan keluarga,
anak-anak yang kehilangan ayah, istri yang kehilangan suami, orang tua yang
kehilangan anak, serta luka yang terus dikenang oleh masyarakat.
Karena itu,
setiap kali terjadi longsor, seluruh warga biasanya ikut membantu proses
pencarian tanpa memandang hubungan keluarga. Solidaritas inilah yang menjadi
bagian dari kehidupan masyarakat pendulang.
Spot ini bukan
untuk membangkitkan kesedihan. Spot ini dibangun agar setiap orang yang datang
memahami bahwa sejarah pertambangan intan bukan hanya tentang keberhasilan
menemukan batu mulia.
Sejarah ini juga
dibangun oleh orang-orang yang mempertaruhkan tenaga, waktu, bahkan nyawanya.
Mereka mungkin tidak memiliki monumen besar. Namun jasa mereka layak dikenang.
Nama-Nama yang
Pernah Gugur (beberapa nama pendulang yang terdokumentasi dalam arsip
pemberitaan): Ahmad Sairoji, Sabrah (Anang Siwang), Suriani, M. Sobari, Supian
Hadi, Samlani, Dumat, Aulia (Aau), Rofii (Jomang), M. Nauval Oval, Saltani
(Toni), Ahyani, Alfatoni, Muhammad Muhaidi dan lainnya yang belum tertulis.
Di banyak
negara, kawasan bekas tambang sering hanya menceritakan hasil tambangnya. Di
Pumpung, kami memilih juga menceritakan manusianya. Karena tanpa para
pendulang, dunia mungkin tidak pernah mengenal nama Intan Trisakti.
Semoga setiap
langkah yang Anda tempuh di kawasan ini menjadi bentuk penghormatan kepada
mereka yang telah bekerja keras, menjaga tradisi pendulangan, dan menjadi
bagian dari sejarah Pumpung. Prasasti In Memoriam Pendulang Intan: "Masih
banyak nama yang belum tercatat, tetapi tidak pernah dilupakan.”